* Oleh: Antonius Tebai

Apa Itu Hak Asasi Manusia?

Hak asasi manusia merupakan hak yang melekat pada diri manusi sejak dalam kandungan dan   merupakan suatu anugra dari Allah yang tidak boleh diganggugugat oleh pihak manapun, baik dalam hukum negara maupun hukum-hukum lainya. Karena itu hak setiap manusia harus lindungi, dihargai, dihormati, di jaga dan dipelihara. Tidak ada seorangpun yang harus mengintervensi dalam hak orang lain. Seperti yang termuat dalam undang-undang pasal 1 No. 39 tahun 1999, bahwa hak asasi manusia merupakan seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajip dihormati, di junjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan hak dan martabat manusia.

Dengan melihat pemahaman dari hak asasi manusia, sesunggunya haka dasar pada hakekatnya sudah ada secara alamia dalam diri setiap orang, dengan demikian hak dasa tersebut tidak perlu untuk mencari diluar dari diri manusia sendiri. Hak tersebut sudah ada dalam diri manusia tanpa memandang ras, golongan, suku, budaya, agama dan jenis gender. Dengan demikiaan hak tersebut harus dilindungi, dihormati, dihargai dijunjung tinggi oleh setiap orang.

Hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia ialah hak untuk hidup, hak untuk memperoleh tempat tinggal yang baik, hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang baik, hak untuk memperoleh pendidikan yang baik, hak untuk bereksperesi, hak untuk menyampaikan pendapat, hak untuk tidak di didiskrimanasikan oleh pihak luar, dan hak lainya yang mendasar. Dengan melihat hakekat dari hak dasar yang melekat pada manusia dapat dikatakan bahwa hak asasi manusia menempati urutan pertama dari setiap hukum yang berlaku. Hak dasar menyangkut hak adikodrati manusia. Hak yang melapampaui hukum yang diciptakan oleh manusia untuk mengatur kehidupannya.

Berdasar pada hakekat manusia yang adalah Ciptaan Tuhan yang paling muliah di hadapan Tuhan dan sesama, maka penulis membatasi diri hanya dalam lingkup gereja. Untuk melihat seperti Apa Hak Asasi Manusia menurut Kacamata Gereja. Sebab gereja adalah sarana keselamatan yang dikehendaki Tuhan melalui Misi-Nya “yakni membawa umat manusia dihadapan Tuhan”. Hal ini dilihat dari definisi, peran dan bagaimana gereja menyikapi konflik Papua dalam kacamata gereja di Tanah Papua.

Apa Itu Gereja?

Gereja dalam bahasa latin ialah ekklesia yang berarti dipanggil keluar. ek berarti keluar sedangkan klesia dari kata kaleo berarti memanggil. Dengan demikian ekklesia berarti kumpulan orang yang dipanggil ke luar (dari dunia ini) untuk dapat memuliakan nama Allah. Jika ditilik dari sejarah pembebasan bangsa Israel dalam kitab suci perjanjiaan lama mengenai Allah menuntun bangsa Israel menuju tana terjanji dari perbudakan Mesir melalu Nabi Musa dapat diartikan bahwa,  bangsa Isralel ialah Ekklesia (Allah memanggil keluar dari perbudakan menuju keselamatan di tanah kanan). Melihat dari pemahaman gereja tersebut, sesunguhnya gereja buakan sebuah bangunan tetapi gereja merupakan kumpulam umat yang dipanggil oleh Allah untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Dalam terang kitap suci perjanjiaan baru gereja didirikan oleh Kristus sendiri diatas wadas Para Rasul demi mewartakan kabar gebira kepada setiap orang. Gereja juga merupakan bait Allah yang tidak dibuat dengan tangan manusia (1 Kor 3:16, 17 dan Kis 7:48). Gereja adalah rumah tetapi bukanlah bangunan. Gereja adalah rumah tempat Allah bertahta. Karena itu sesungguhnya gereja yang dimaksud ialah Manusia itu sendiri, manusia yang diapnggil Allah, keluar dari zona dosa untuk bersatu kembali bersama Allah sebagai satu keluarga kudus, satu komunio dan satu persekutuhan dalam Nama Kristus.

Selain Gereja dipandang sebagai kumpulan umat beriman, dalam perkembangan jaman pemahaman mengenai gereja diartikan juga dalam artian fisik. Dengan demikiaan gereja dalam arti fisik merupakan sebuah bangun khusus yang digunakan oleh umat beriman untuk melakukan sembah bakti kepada Allah yang dipersatukan oleh Kristus melalui doa-doa maupun nyayian. Dalalam gereja meiliki susunan hirarkis, yakni Bapa suci (Bapa Paus), Uskup, Imam dan Diakon hingga jemaat beriman. Sususnan hirarkis ini sesungguhnya ialah para murid Kristus yang dipersatukan Allah melalui Pembabtisan. Sehingga gereja secara arti fisik maupun non fisik memiliki arti dan makna yang sangat besar dalam peranya di dunia ini.

Apa Peran Gereja?

Kepala gereja ialah Yesus kristus sehingga gereja meneruskan visi yang bersumber dari Yesus Kristus (Mat 28: 19-20). Dalam misi-Nya, Kristus memberi perintah kepada semua umat beriman untuk bermisi “karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid -Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh kudus dan ajarililah mereka melakukan segala sesuatu yang kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, akau menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Dengan melihat visi tersebut sesunguhnya gereja berperan untuk mewartakan apa yang disampaikan oleh kristus kepada para rasul. Disini peranan gereja bukan hanya menyangkut memelihara hubungan manusia dengan Tuhan saja tetapi juga menyangkut bagaimana relasi manusia dengan manusia sebagai citra diri Allah. Dalam misi tersebut, gereja tidak bisa diam, bisu atau tuli terhadap ketidakadilan yang senantiasa menimpa anggota tubuh gereja lain. Hal ini akan menjadi tugas dan tanggung jawab bagi hirarki gereja maupun anggota gereja dalam mengambil peranya masing-masing untuk menyelamatkan jemaat yang malang tertimpah bencana terutama pelanggaran-pelanggaran yang berhubungan dengan hak asasi manusia.

Bagaimana Peran Gereja Terhadap Hak Asasi Manusia?

Seperti yang saya tuliskan dalam perana Gereja diatas bahwa, Gereja bukan hanya berbicara mengenai bagaima hubungan manusia dengan Tuhan tetapi juga bagaiman hubungan atau relasi manusi dengan manusia lain sebagai gamabar dan citra diri Allah. Hubungan yang baik dan harmoni antara manusia dan Tuhan dapat terbukti melalui cara membangun relasi anatara sesama ciptaan sebagai citra diri Allah.

Dalam perjanjiaan lama, cukup jelas bahwa Allah sangat berperan penting dalam membela hak asasi manusia melalui diri musa terhadap bangsa Israel yang ditindas terus menerus dari bangsa Mesir. Dengan penindasan yang dilakukan oleh bangsa mesir terhadap bangsa Israel, Allah memili musa sebagi nambi untuk menyelamatkan bangsa Israel, dan pada akhirnya bangsa Israel terlepas dari perbudakan bangsa Mesir. Dalam perjanjian baru Yesus sangat berperan penting dalam mengangkat harkat dan martabat manusia, artinya bahwa Yesus berbicara banyak tentang hak asasi manusia, bukan soal bagaimana membangun hungan dan relasi pribadi bersama Tuhan melalui doa ataupun nyanyian dan tarian. Bukan berarti juga bahwa doa, nyanian dan tarian tidak penting dalam membangun relasi bersama Tuhan. Namun, yang sanagat penting bagi Yesus ialah seseorang membangun relasi yang baik bersama Tuhan akan terlihat jelas ketika relasi bersama sesama dapat berjalan dengan baik, tanmpa ada musuh, kebencian, iri hati, kedengkihan amarah, memanfaatkan hak orang lain untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu, merendakan harkat dan martabat golongan tertentu. Dilihat dari peranan Yesus dalam mengagkat harkat dan martabat manusia, sesungguhnya bahwa penderitan, penyalipan dan kematian Yesus hanya demi membelah hak asasi manusia. Tujuan Yesus membela harkat dan martabat manusia ialah agar manusia hidup sama derajat, tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih renda dari golongan tertentu, suku tertentu, agama tertentu, kelompok tertentu ras tertentu, budaya tertentu atau pun yang lain. Yesus menghendaki agar manusia sebagai citra Allah duduk sama renda dan sama tinggi atau dengan kodrat yang sama dihadapan Allah.

Ditilik dari peranan Allah dan Yesus dalam mengankat harkat dan martabat manusia, sesunggunya Gereja sebagai tanda atau sarana kehadiran Allah turut serta dalam melanjutkan misi tersebut. Dalam ajaran Gereja gaudium et spes No 29 membahas mengenani peranan gereja terhadap hak asasi manusi yakni “Karena semua manusia mempunyai, jiwa berbudi dan diciptakan menurut citra Allah, karena mempunyai kodrat dan asal yang sama, maka kesadaran serta karena penebusan kristus mempunyai panggilan dan tujuan ilahi yang sama, maka kesamaan asasi antara manusia, harus senantiasa harus diakaui”.

Konflik Papua dan apa Peranan Gereja?

Konflik berkepanjangan yang terjadi dipapua berawal ketika Indonesia menintegrasikan papua didalam Negara Kesatuaan Repoblik Indinesia sejak tahun 1963 hingga saat ini. Berikut ini merupakan bebrapa catatan kasus pelanggaran ham berat yang terjadi di tanah papu. Kasus biak berdarah, 6 juli 1996, Kasus wasior berdarah, juni 2001, kasus wamena berdarah, April 2003, Kerusuhan universitas Cendrawasi, di jayapura 16 Maret 2006, kasus paniai berdarah di Enarotali, 8 desember 2014, kasus Deiyai pada, 1 Agustus 2017, kasus Nduga 2 desember 2018, 19 Sebtember 2020 penembakan seorang pendeta dari pihak TNI di Intan Jaya dan masih banyak pelanggaran ham berat lainya yang belum disebutkan. Selain peristiwa penembakan ada juga pelanggaran hak asasi manusia dalam bentuk lain, misalanya; kehadiran PT. Freeport menyebabkan terancamnay kehidupan ekosistem alam sebagai mata pencaharian hidup suku amugme, Perusahan-perusahan kelapa sawit dan perusahan perusahan lainya seperti tambang minyak, pendulangan emas secra illegal, perusahan-perusahan kayu yang beribu-ribu hektar habis dalam setiap hari yang meraja lelah di tanah papua,  membuat terancamnya ekosistem alam sebagai mata pencarian pokok dari kehidupan masyarakat papu, Pembangunan infrastruktur yang semakin memarjinalkan orang yang miskin di tanah papua, rasisme pada bulan sebtember 2019 di kota Surabaya oleh pihak TNI dan PORLI terhadap mahasiswa papaua dan berbagai konflik dan persoalan lainya.

Melihat dari semua konflik yang terjadi diatas tanah papua ini, sesunggunya sakit dan duka dari bangsa papau merupakan sakit dan duka bagi Gereja tana papua. Hal ini karena, konflik yang di tanah papaua sangat bertentangan dengan visi gereja sebaga pembawa kabar gembira. Secara pribadi, saya belum melihat suara dan peranan gereja terhadap konflik yang terjadi ditanah papua ini. Secara pribadi saya mempertanyakan, Apakah peranan gereja di tanah papua hanya menyangkut berkotbah didalam Gereja di alatar ataukah, peranan gereja di papau hanya menyangkut retorika untuk menyampaikan kabar mengenai membangun relasi pribadi dengan Tuhan dan mengabaikan relasi hidup yang baik dan benar terhadap sesema cirta Allah?, ataukah Gereja papua memandang pembelaan terhadap hak asasi manusia merupakan duni politik yang kotor dan tidak layak untuk di sentuh? ataukah semboyan mengenai hakekat dan status kedudukan gereja katolik mengenai 100% katolik dan 100% Indonesia yang dikeluarkan oleh komisi konvrensi wali gereja yang membuat peranan gereja terhadap mengangkat harkat dan martabat manusia dibataisi oleh karena Gereja yang Universal dibatasi oleh suatu wilaya tertentu?

Setelah saya mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan diatas saya teringat akan doa salah seorang santo dalam gereja katolik, yakni santo fransisikus dari Asisi, “Tuhan jadikanlah akau pembawa damai bila terjadi kebenciaan, jadikanlah aku pembawa cinta kasih”. Sesunggunya doa yang diwariskan oleh santo fransiskus ini menjadi sprit bagi gereja secara Universal, Namun gereja di papau masih berdiam diri hanya karena pertanyaan tadi yang saya tuliskan sebelumnya.

 

Apakah Kedamaian merupakan Misi Gereja?

Gereja universal diseluruh dunia sangat mendamabakan perdamaian diatas muka bumi dapat tercipta. Dengan demikian perdamain menjadi visi yang di cita-citakan oleh gereja sejak semula. Kristus sendiri sebagai kepala gereja menghendaki agar hendaknya sebagai anak-anak Allah hidup dalam kasih dan persaudaraan. Janganlah hidup dalam permusuhan dan hiduplah dalam kasih karena Allah yang memelihara kamu dalam kasih yang sempurna.

Bagaiman Gereja berperan untuk Mewujudkan Papua Tana Damai?

Jika perdamaiaan sebagai visi dalam gereja, hendaknaya gereja papua yang hadir ditengah beragam dimensi konflik berperan aktif dalam membela kebenaran dan keadialan demi mewujudkan papua tanah damai. Sesunggunya gereja memiliki pandanagn yang amat sangat kaya dalam menghadirkan perdamaian dalam suatu konflik, namun gereja lebih dominan berdiam dan membungkaam suara Tuhan. Hemat penulis, hal ini disebabkan karena gereja kaku dalam menghadirkan perdamaian di tanah Papau dengan berbagai macam peraturan lahiria yang dibuat dalam gereja. Selain itu juga, Gereja merasa penegakan hak asasi manusia dalam persoalan negara merupakan dunia politik yang semestinya gereja tidak menyentuh. Dari kedua pandangan ini, sesunggunya gereja secara tidak langsung membungkam suara Tuhan. Dari pemahaman saya mengenai gereja membungkam suara Tuhan. Mengapa demikia, kita bisa membaca kisah perjumpaan nabi Musa dengan Tuhan sebelum Tuhan membawa keluar bangsa Israel dari perbudakan Mesir.

Dalam perjumpaan tersebut, Allah menghendaki agar musa harus membawa keluar bangsa Israel ketanah terjanji yang ditunjukan oleh Allah. Namun dalam perjumpaan tersebut Musa menolak atas tawaran Allah. Hal ini disebabkan karena Musah merasa tidak mampu untuk membawa keluar bangsa besar tersebut ketana terjanji dan ia merasa tidak mampu untuk berbicara dengan Firaun raja Mesir saat itu. Tetapi Tuhan berkata bukan kamu yang membawa keluar tetapi Akulah yang akan membawa keluar bangsa Israel dan bukan kamulah yang berbicara dengan raja Mesir tetapi Akulah yang akan berbicara. Dengan demikian Musa meneriama atas tawaran Allah dan dengan berani nabi Musa berhasil untuk membawa keluar bangsa Israel dari perbudakan mesir. Melihat dari konteks ini, penulis meyakini bahwa gereja Papua dan umumnya di Indonesia sesunggunya menutupi tawaran Allah untu menghadirkan perdamaiaan diatas tanah Papu menuju perdamaian sejati.

 

 

Kesimpulan

Hak asasi manusia merupakan hak yang melekat pada diri manusia sejak dalam kandungan, dan merupakan suatu anugrah dari Allah yang harus dilindung, dijaga, diharagai, dihormati dan dijunjung tinggi. Hak mendasar yang melekat pada diri setiap pribadi tidak ada pihak manapun yang berhak untuk menginterfensi dan membatasi hak dasar orang lain tetapi justru melilindungi, menjaga, menghargai, menjunjung tinggi dalam hidup bersama sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Kehadiran pemerintah dalam sebuah negara dan agama berperan penting dalam menjaga, melindungi, memelihara, mengayomi, menjunjung tinggi hak dasar dari setiap manusia. Didalam undan-undang pasal 1 No. 39 tahun 1999 telah dijunjung  mengenai peranan negara dalam memelihara hak dasar dari setiam manusia. Dalam bidang keagaman terutama dalam gereja katolik sanagat berperan penting dalam menjaga, memeliihara jiwa, harkat, martabat setiap orang sebagai satu kodradti di hadapan Allah. Dalam terang kitap suci, baik Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru,  Allah justru berperan penting dalam mengankat harkat dan martabat manusia. Dalam perjanjiaan lama, Allah berperan melalui nabi Musa untuk menelamatakan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, sedangkan dalam perjanjiaan baru Yesus berperan penting dalam membela harkat dan martabat manusia agar manusia sama kodrat dihadapa Allah sebagai bagiaan dari citra diri Allah.

Dan gereja saat ini, Allah berbicara melalui para wakil-wakilnya, baik secara intern dalam hirarki gereja maupun gereja secara umum dari semua anggota gereja. Karena itu benarlah apa yang tekankan dalam ajaran sosial gereja Gaudium Et Spes No. 29 membahas mengenai peranan gereja dalam menjaga, memelihara dan mengankat harkat dan martabat manusia sebagia ciptaan Tuhan yang sama.

Melihat dari peranan negara dan gereja dalam memelihara dan menjaga, menghargai serta menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia seringkali dalam relaita hidup menyimpang dari peranan dan fungsinya dalam menjaga serta memelihara hak mendasar yang dimiliki oleh setiap orang. Bukti tersebut dapat dilihat jelas ketika melihat situasi konflik papua yang terjadi sejak tahun 1963 hingga kini ketika papua diintegrasikan dalam bingkai Negara Kesatuaan Repoblik Indonesia. Sumber daya alam dipapua di rekrut habis oleh negara, penembakan terjadi dimana-mana dengan moncong senjata ketika orang  papua menyuarakan hak hidup, operasi militer terus berlanjut tanpa adanya pendekatan kultur dan pendidikan.

Melihat dari situasi demikian, geraja papua semakin membungkam untuk membela harkat dan martabat manusia. Visi gereja sebagai pembawa Kabar Gembira seakan-akan menjadi sologan bagi gereja papua tanpa adanya realisai. Dengan demikian peranan geraja dalam memihak pada mereka yang miskin, kaum marginal, dibunuh, dianiaya, disiksa dan dihukum, tidak terlihat jelas dikacamat gereja. Yang sesungunya terjadi ialah duka bagi bangsa Papua merupakan duka juga bagi gereja Papua secara khusus dan gereja Universal pada umumnya. Melihat dari situasi demikian, penulis sebagai seorang mahasiswa dengan amat sangat berharap agar, negara dan gereja Papua bersuara untuk memecahkan persoalan yang terjadi diatas tanah papua ini. Demi menciptakan Papua damai seperti yang dicita-citakan bersama dalam membangun bangsa yang damai dan mengangkat harkat martabat yang sama koddrat di hadapan Allah.

 

)*Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi “Fajar Timur”, Abepura, Jayapura, Papua.

 

 Referensi

  1. https://jubi.co.id/melawan-lupa-kasusu-pelanggaran-hak-asasi-manusia-ham-di-papaua/ (diakses 2 oktober 2020).
  2. https://www.parokimbk.or.id/warta-minggu/fokus/10-12-2017-hak-asasi-manusia-dan-gereja-sosial-gereja/ (Diakses, 02 Oktober, 2020).
  3. Surya Adi Kusuma, “Karta di Bumi, Memerintah Bersama Yesus Disurga”