Suara Fajar Timur

Giddens, Modernitas Dan Dialog Damai Di Tanah Papua

Oleh: Florentinus Tebai)*

(Sebuah Pandangan tentang Modernitas oleh Anthony Giddens)

 

Apa itu Tanah Papua?

Masih banyak orang yang menjuluki tanah Papua sebagai medan konflik yang subur. Dinamika kehidupan yang penuh dengan pertumpahan dara, perang, permusuhan, kerusuhan. Ringkasnya, sistem polah dan dinamika hidup yang demikian sudah dimulai sejak bangsa Indonesi menganeksasikan bangsa Papua ke dalam bingkai NKRI melalui peristiwa PEPERA pada tahun 1969 silam yang manipulatif (Penuh Tipu Daya/Kebohongan). Dampaknya, konflik masih terjadi. Ia bertumbuh subur dan telah menghilangkan beragam nyawa manusia. Korban berjatuhan antara kedua belah pihak (Jakarta-Papua).

Sayangnya, sistem kehidupan yang demikian masih tertanam kuat dalam seluruh dinamika kehidupan di tanah Papua pada khusunya dan Indonesia pada umumnya. Diantaranya seperti konflik yang terjadi di Timika pada akhir-akhir ini.Seorang karyawan PT .Freeport Indonesia yang merupakan warga negara asing (WNA) tewas karena ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kuala Kencana, Timika, Mimika, Papua, Senin (30/3/2020).Penembakan tersebut juga mengakibatkan dua WNI yang juga karyawan Freeport mengalami luka-luka. (Kompas.Com, 30 Maret 2020).  Pertanyaanya, Bagaimana menciptakan Papua sebagai Tanah Damai?

Apa Tanah Damai?

Kamus Besar Bahasa Indonesia pada edisi keempat menjelaskan bahwa damai adalah situasi yang tidak ada perang, permusuhan, jauh dari kerusuhan, adanya iklim hidup yang aman dan nyaman, suasana hidup yang tenang dan tenteram, rukun, tidak saling bertengkar (Permusuhan). Jadi, Damai dalam konteks Papua tanah damai berarti terciptanya suatu sistem kehidupan yang tidak ada perang, permusuhan, tidak ada kerusuhan, terciptanya suatu iklim hidup yang aman dan nyaman, adanya ketenangan dan ketenteraman, kerukunan, dan keadaan yang tidak saling bermusuhan antara satu dengan sesama yang lainya dalam hidup bersama sebagai manusia di atas tanah Papua.

Siapa itu Orang Asli Papua?

OAP mempunyai keturunan. Lahir dari leluhur tete-nene moyang bangsa dan manusia Papua. Garis keturunannya jelas, yakni suku, ras, agama dan budaya sebagaimana seperti bangsa dan manusia lain yang juga memiliki leluhur dan datang keturunan. Punya ciri fisik yang identik dengan kulit hitam berambut keriting. “Hitam kulit, keriting rambut aku Papua” Edo kondologi melalui lagunya menyadarkan kepada dunia bahwa OAP adalah manusia yang memiliki ciri fisik dan garis keturunan. Ciri fisik dan garis keturununan inilah yang masih bertahan hingga kini. “Ini garis keturunan langsung dan bertahan sampai sekarang. Cirinya rambut keriting, hitam kulit sampai sekarang bertahan di Papua”

Hal serupa ini juga ditegaskan dalam undang-undang Otsus bahwa “orang asli Papua yang tertulis dalam UU Nomor 21/2001 Pasal 1 huruf (t) berbunyi, adalah”Orang yang berasal dari ras rumpun Melanesia yang terdiri dari suku-suku asli di Papua, dan atau orang yang diterima dan diakui sebagai orang asli Papua oleh masyarakat adat Papua”.

OAP mempunyai harga diri dan martabat. Ia bukan binatang dan benda, melainkan seorang manusia. Hal ini dapat dibuktikannya melalui citra dirinya sebagai manusia ciptaan Allah (Creactio ex Nihilo). Ia diciptakan oleh Allah menurut gambar, rupa dan secitra dengan diri-Nya. Ia memiliki akal budi, kehendak bebas, dan hati nurani sebagai manusia. Oleh sebab itu, OAP adalah manusa ciptaan Allah yang tentunya berbeda dengan binatang dan benda-benda ciptaan lainnya. OAP adalah makhluk sejati.

Siapa itu Gidenns?

Anthony Giddens adalah teorisi sosial Inggris masa kini dan salah seorang dari sedikit teorisi yang sangat berpengaruh di dunia. Giddens lahir pada tanggal 18 Januari 1938. Ia belajar di Universitas Hull, di The London School of Economics, dan di Universitas London. Tahun 1961 ia diangkat menjadi dosen di Universitas Leicester. Karya awalnya bersifat emipiris dan memusatkan perhatiannya pada masalah bunuh diri. Tahun 1969, ia beralih jabatan menjadi dosen sosiologi di Universitas Cambridge dan sebagai anggota King’s Collage ia terlibat dalam studi tentang percampuran kultur, menghasilkan bukunya yang pertama yang mencapai penghargaan internasional, berjudul The Class Structure of Advenced Societies (1975). Selama dekade berikutnya, ia menerbitkan sejumlah karya teoritis penting. Karya-karyanya itu selangkah demi selangkah ia mulai membangun perspektif teoritisnya sendiri. Tahun 1984 karya Giddens mencapai puncaknya dengan terbitnya buku Constitution of Society. Outline of Theory of Struction, yang merupakan pernyataan tunggal tentang perspektif teoritis Giddens. Tahun 1985 ia diangkat menjadi Profesor Sosiologi di Universitas Cambridge.

Apa itu Modernitas?

KBBI menjelaskannya bahwa Modernitas berasal dari kata Modern, yaitu Zaman Modern, Masa dari penemuaan mesin cetak (1440), nama sejumlah karya budaya dan masa lalu, terbaru, mutakhir, pasukan diperlengkapi dengan senjata-senjata, sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman, memodernkan, paling modern (Keadaan Modern). Dengan demikian, Modernitas adalah sikap (Tingkah Laku dan Perubahan) serta pola pikir yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Gidenns dan Konsekuensi Modernitas?

Giddens mendefinisikan modernitas dilihat dari sudut empat isntitusi mendasar, yakni; Pertama, kapitalisme yang ditandai oleh produksi komoditas, pemilikan pribadi atas modal, tenaga kerja tanpa property (propertyless), dan system kelas yang berasal dari ciri-ciri tersebut. Kedua, industrialisme yang melibatkan penggunaan sumber daya alam dan mesin untuk mesin untuk memproduksi barang. Ketiga, Kemampuan mengawasi (surveillance capacities). Keempat, kekuatan militer, atau pengendalian atas alat-alat perang, termasuk industrialisasi peralatan perang. Perlu dicatat juga bahwa dalam analisisnya, Giddens memusatkan pada Negara-bangsa (nation state) yang dilihatnya dari tipe komunitas yang menandai masyarakat pra-modern.

 

 

 

Gidenns dan Konsekuensi Modernitas saat ini di tanah Papua?

Pertama, Kapitalisme. Saat ini, Di tanah Papua sudah dan sedang dikuasi oleh Kapitalisme dan Imperialisme modern, sebagaimana seperti yang telah dijelaskan oleh Giddens dalam teori atau analisnya kehidupan sosialnya mengenai konsekuensi modernitas. Artinya, hal yang sama dan serupa sudah dan sedang dialami oleh Orang Asli Papua (Selanjutnya baca OAP) di tanah Papua. Akibatnya, sistem perekonomiaan masyarakat di atas tanah Papua yang kaya akan sumber daya alam dan tanah penuh susuh dan maduh, serta tanah warisan leluhur alam bangsa Papua sudah dan sedang termarjinal (Terpinggirkan). Tanah Papua sudah dan sedang menjadi tempat penanaman modal dan kegiatan perindustriaan bagi kaum Kapitalis dan Imperialis dengan mendatangkan perusahan-perusahan besar di tanah Papua untuk mengekploitasi hutan, gunung dan segala kakayaan SDA di tanah Papua.

Kedua, Industrialisme. Saat ini, Tanah Papua juga menjadi ladang subur bagi industry (Pengusaha) asing. Akibatnya, Ekonomi OAP di tanah Papua, semakin termarjinal (Terpinggirkan), menderita, dan tak berarti. Karena, sistem perindustriaan yang sudah dan sedang terjadi di atas tanah Papua, sudang dan sedang merusak perekonomiaan OAP di tanah Papua. Dengan adanya lahan bisnis, dibangunnya pertokoaan, perhotelan, hypermarket, supermarket, dan lainnya, sudah dan sedang memarjinalkan perekonomiaan OAP di tanah Papua. Dalam konteks inilah, Giddens seorang sosiolog menjelaskannya bahwa konsekunsi dari teori modernitas. Artinya, Modernitas justru menjadi malapetaka besar bagi kehidupan sosial.

Ketiga, Kemampuaan Mengawasi dan Kekuatan Militer. Di tanah Papua, dua hal ini menjadi isu utama. Tanah Papua menjadi medan konflik (Persoalan) yang subur, yang diakibatkan oleh sejumlah opersasi militer, korban pelanggaran HAM, Penembakan, kematiaan, didirikannya pos-pos militer dan tentara, kapolsek, koramil, dalam jumlah yang tidak beraturan, bahkan bangunan pos-pos militer di bangun di tengah kehidupan masyarakat. Dengan adanya dinamika pengawasan dan kekuatan militer di tanah Papua yang amat banyak dan tinggi telah mengorbankan eksistensi (Keberadaan) manusia dan SDA di tanah Papua. Rakyat sipil (OAP) yang tidak bersalah sudah dan sedang menjadi korban ketidakadilan, kebenaraan, yang disebabkan oleh kekuatan militerisme di tanah Papua.

Warga sipil telah menilainya bahwa kekuatan militer bukannya memberikan perlindungan dan kenyamanaan bagi warganya, tetapi sebaliknya, Kekuataan Militer di tanah Papua, justru menjadi sarang konflik bagi kehidupan rakyat sipil yang tidak bersalah. Mereka (Rakyat Sipil) telah dan sedang disingkirkan, diintimidasi, dan bahkan dibunuh dan disiksa, walau mereka tidak bersalah. Rakyat sipil sedang menderita di atas tanah leluhur bangsa Papua, karena kebenaran dan keadilan masih sulit ditegahkan di atas tanah Papua.

Akhirnya, Penulis menyimpulkannya bahwa Papua Tanah Damai adalah Visi bersawa, Visi ini belum terlealisasi hingga kini di tanah Papua. Beragam sosuli telah diupayakannya oleh berbagai pihak pula, tetapi visi Papua Tanah Dami masih menjadi jalan buntuh yang tak pernah diselesaikan oleh siapapun. Kekuatan Militerisme, Kapitalisme dan Imperialisme telah diupayakan oleh pihak Jakarta, namun solusi itu justru melahirkan konflik bagi eksistensi manusia dan SDA di tanah Papua. Bahkan banyak pihak (Manusia dan Alam) Papua yang sudah dan sedang menjadi korban ketidak adilan atas kebenaran.  Oleh karena itu, Solusi lain yang tepat untuk tegakan Visi Papua Tanah Damai, ialah DIALOG (Jakarta-Papua) yang telah digagas oleh almarhum Dr.Neles K Tebay, menjadi solusi tepat dalam menyelesaikan persoalan Papua secara menyeluruh dan bermartabat.

Kiranya, Visi Papua Tanah Damai ini menjadi tanggungjawab bersama, yakni Gereja, ULMWP, MRP, MRPB DPR, DPRP, Pemerintah Provinsi Papua, Para Pimpinan Daerah (Bupati setah Papua), Pemerintah Pusat (Jakarta), Akademisi, di tanah Papua pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya, sehingga dengan begitu Visi Papua Tanah Damai pun terbuka lebar di atas tanah Papua.

 

 

Referensi

Rahankey, A. dkk. Materi Seminar Bidang Sosial, “MODERNITAS JUGERNAUT”. STFT “Fajar Timur”, Rabu, 02 Oktober 2020. 09.00-11.00 WIT.