Suara Fajar Timur

Mewartakan Kabar Gembira Injil Di Tengah Krisis Iman Dan Identitas

(Sebuah Refleksi Pribadi Untuk Memperingati Bulan Kitab Suci Nasional)

 

Oleh: Florentinus Tebai)*

 

  1. Apa yang dimaksud dengan Kabar Gembira Injil?

Kabar gembira identik dengan kabar baik, kesukaan, berita baik atau lebih umum dikenal dalam bahasa Yunani, euangelion, artinya “kabar yang baik. Dalam, injil Lukas dikatakan bahwa kabar baik adalah mengenai kerajaan Allah. Mukjizat-mukjizat dan penyembuhan-penyembuhan dalam injil lukas adalah sebagai tanda dan bukti dari Kerajaan Allah yang diuangkan langsung oleh Yesus Kristus. Oleh karena itu, Kabar baik merupakan hakikat (Landasan/Dasar) dari amanat Yesus Kristus bagu umat Kristiani yang adalah jemaat-Nya.

  1. Kabar Gembira Injil itu dari Mana?

Jika Kabar Gembira adalah hakikat amanat Kristiani, maka kabar gembira itu berasal dari Allah. Artinya, Allah adalah Sang Sumber Kabar Gembira. Allah sendirilah yang memberikan Kabar Gembira bagi semua umat manusia. Sebab, Allah mencintai manusia yang berdosa sehingga Allah mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia demi menyelamatkan semua umat-Nya dari kesalahan dan dosa-dosa.

  1. Siapa yang harus melaksanakan Kabar Gembira Injil?

Awalnya kabar Gembira itu sendiri bersumber dari Allah. Allah yang menjadi penggerak utama atas kabar Gembira. Maka, Visi Kabar Gembira Injil kemudiaan diserahkan kepada Yesus Kristus Putera-Nya yang tunggul. Dengan mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dalam dunia, Allah memberi kepercayaan kepada Yesus, agar Yesus menjalankan Misi Allah (Misio Dei), yakni mewartakan Kabar Gembira Injil kepada semua bangsa di seluruh dunia. Misi ini telah dijalankan oleh Yesus semasa hidup-Nya di dunia hingga akhir hayat-Nya di Kayu Salib.

Selanjutnya, Misi yang satu dan sama (Kabar Gembira Injil) ini diteruskan dan dilanjutkan oleh para Rasul (Ke-12 Muridnya). Para muridlah yang telah mewartakan dan menjalankan misi Allah. Dan kini, Misi itu dilanjutkan oleh Gereja Universal di seluruh dunia hingga kini.

 

  1. Apa tujuan dari kabar Gembira Injil?

Pertama-tama, Kabar Gembira Injil bertujuan, supaya semua manusia dapat mengalami keselamatan. Artinya, semua orang yang menderita (Jasmani, yaitu hilangnya harapan hidup karena hak-hak mendasar hidupnya dirampas oleh orang lain dapat mengalami kebahagiaan dan kesejahteraan semasa hidup di DUNIA. Rohaninya, yaitu supaya semua orang yang berdosa dan bersalah dapat bertobat dan dibebaskan dari salah dan dosanya, sehingga dengan begitu pada akhirnya semua manusia yang telah berdosa dapat mengalami kebahagiaan dan kedamaiaan di AKHIRAT, yaitu di surga bersama Allah sang sumber kabar Gembira).

Mewartakan Kabar Gembira Injil Di Tengah Krisis Iman Dan Identitas OAP di Tanah Papua

Tanah Papua selain memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Tanah Papua juga dikenal dengan beragam persoalan kemanusiaan dan alamnya, yaitu terjadi perang, permusuhan, kerusuhan, pembunuhan, eksploitasi dan ekplorasi sumber daya alam, perampasan Hak-Hak dasar, Rusaknya Ekosistem dan Lingkungan Hidup, Persoalan Kemiskina, Diskriminasi dan Rasisme, Pembunuhan dan Pemerkosaan, Marjinalisasi dan Depopulasi, Kualitas Pelayanan Pendidikan dan Kesehatan yang minim, Pelayanan Kesejahteraan Umum, seperti Rumah Sehat, Penyediaan Air Bersih, Lampu, dan kebutuhan lainnya yang masih terbatas dan jauh dari harapan.

Pertanyaannya, Apakah ini Kabar Gembira? Tentu tidak, sebab ini adalah sejumlah kabar buruk, yang dapat mengecewakan, menyedihkan dan bahkan membuat orang menderita di atas tanah Papua yang memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Lalu, Bagaimana Kita menjadi pelaku kabar gembira injil (Pelaku Kabar Baik) dalam kontek kehidupan kita di tanah Papua.

Menjadi seorang pembawa kabar gembira injil atau kabar baik dalam konteks kehidupan kita di tanah Papua, ialah saya dan anda mempunyai tugas dan tanggungjawab besar dalam upaya menciptakan suatu sistem kehidupan yang tidak ada perang, permusuhan, tidak ada kerusuhan, terciptanya suatu iklim hidup yang aman dan nyaman, adanya ketenangan dan ketenteraman, kerukunan, dan keadaan yang tidak saling bermusuhan antara satu dengan sesama yang lainya dalam hidup bersama sebagai manusia di atas tanah Papua.

Kita menjadi jawaban atas persoalan kemanusiaan dan SDA di tanah Papua, supaya semua manusia di tanah Papua dapat mengalami keselamatan. Artinya, semua orang yang menderita (Jasmani, yaitu hilangnya harapan hidup karena hak-hak mendasar hidupnya dirampas oleh orang lain dapat mengalami kebahagiaan dan kesejahteraan semasa hidup di DUNIA. Rohaninya, yaitu supaya semua orang yang berdosa dan bersalah dapat bertobat dan dibebaskan dari salah dan dosanya, sehingga dengan begitu pada akhirnya semua manusia yang telah berdosa itu mengalami kebahagiaan dan kedamaiaan juga di AKHIRAT, yaitu di surga bersama Allah sang sumber kabar Gembira).

Akhirnya bahwa Kabar Gembira Injil yang berasal dari Allah, sekaligus Allah menjadi Penggeraknya. Allah adalah Sang Sumber Kabar Gembira. Selanjutnya, Misi Allah yang satu dan sama telah diteruskan oleh Yesus-Para Rasul, dan Kini oleh Gereja Universal di seluruh dunia. Dengan berpedoman pada satu tujuan darinya ialah, agar semua orang mengalami kesalamatan hidup di DUNIA mapun di AKHIRAT. Oleh karena itu, Kabar Gembira Injil mesti diwartakan oleh semua umat Allah dalam konteks kehidupan nyata (Real). Terlebih khusus di tengah krisis iman dan identitas di dunia pada umumnya dan tanah Papua pada khususnya dimasa vandemi covid-19. Karena itu “Kabar” Gembira yang dimaksud ialah kita manusia, orang Papua-Indoensia menjadi jawaban atas harapan semua umat beriman Kini dan saat ini dan bukan nanti dalam seluruh bidang hidup terutama gereja.

Dalam konteks inilah, Gereja Universal di seluruh dunia terus dipanggil dan diutus untuk terlibat aktif dan bertanggung jawab atas setiap persoalan (Krisis) iman dan identitas umat di seluruh dunia pada umumnya dan tanah Papua khususnya menjadi Misi gereja lokal saat ini. Dalam Dukumen Konsili Vatikan ke II, dengan jelas mengemukakannya, bahwa Suka duka Umat adalah kegembiraan dan harapan dari Gereja Universal. Artinya tanggungjawab dan keatifan Gereja Universal di seluruh dunia terhadap tiap persoalan iman dan identitas merupakan salah satu tantangan Gereja Universal di seluruh dunia pada umumnya dan gereja lokal Papua pada khususnya. Penderitaan (Krisis Iman dan Identitas) Umat di tanah Papua juga merupakan penderitaan, suka dan duka Gereja Papua kini dan selamanya.

)*Penulis adalah Anggota Kebadabi Voice Group dan Mahasiswa di STFT “Fajar Timur”, Abepura, Jayapura, Papua.