PERAN KELUARGA MENCERMINKAN BENTUK PEMERINTAHAN

Oleh: Erik Bitdana

 

Kita ketahui bahwa masalah keluarga bukan hal baru tetapi hal baru adalah masalah keluarga. Siapa pun dia tanpa memandang latarbelakang keluarga, status, keluarga kecil-besar, miskin-kaya atau bentuk keluarga apapun termasuk kita yang sedang mempersiapkan hidup baru yang sedang menjalani “masa perkenalan” menuju ikatan keluarga. Inilah konflik yang selalu mengadirkan sebab akibat sepanjang masa. Sehingga pemahaman ini sebagai sarana guna melihat kembali kelemahan dan kelebihan dalam masalah keluarga yang diharapakan harmonis sebagai gambaran pemerintah atas dasar relasi Satu Hati, Satu Tujuan dan menuju Satu harapan hidup atas dasar cinta.

Dalam tulisan ini, penulis tidak bermaksud semata-mata menyamakan tugas rumah tangga dalam keluarga micro dengan pemerintah sebagai keluarga macro tetapi lebih pada teguran agar melihat kembali perjalanan hidup, sejauh mana kita alamai dan rasakan. Kita yakin bahwa tidak ada seorang pun didunia ini yang tidak ingin memiliki keturunan “Berkeluarga” kecuali mereka yang diperuntuhkan hidupnya demi Kerajaan Allah”. Dengan kata lain kita semua adalah pemimpin keluarga yang akan diberi tugas untuk memimpin sebuah pemerintahan besar di setiap daerah yang adalah cerminan keluarga.  Maka itu baiklah kita belajar dari model pemimpin a- la keluarga yang fungsinya tidak jauh berbeda dalam pengelolahan kehidupan pemerintah sebagai rumah tangga besar.

Tulisan ini lahir dari analisa sosial penulis dalam aplikasi teori psikososial tentang pengaruh lingkungan sosial dalam management pemerintahan di berbagai Kabupaten di Papua yang cukup signifikan hancur karena belum menunjukan sosok ayah bagi rakyatnya.  Salah satu hal yang melatarbelakangi adalah kurangnya tugas dan tanggung jawab seorang suami “Ayah” sebagai tulang punggung keluarga dalam suatu rumah tangga. Dimana suami selalu mencari istri idaman yang baru ketimbang mencintai, menyayangi dan mengatur rumah tangga dengan rasa cinta yang tulus “Memiliki” terhadap kekasih . Apabilah rasa memiliki tidak lagi menjadi bagian dari hidup kita, maka tidak salah jika perselingkuan terus terjadi pada rana keluarga, Korupsi, kolusi dan Nepotisme yang tak memuaskan di ranah pemerintahan akan terus dilakukan.  Disini penulis menyadari akan adanya krisis moral dalam keluarga sehingga integritas sebagai satu keluarga yang rasa memiliki belum dinyatakan.  Dan krisis moral ini menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga hingga mengundang penilaian publik yang kurang terhormat martabatnya. Kalau demikian, bagaimana dengan tugas besar untuk mengatur pemerintah yang adalah gambaran besar keluarga besar? Yang didalamnya memilki beragam bentuk manusia, suku, agma dan budaya diseluruh wilayah dan daerahnya maupun keluarga?

Tujuan dari tulisan ini tentu, sedikit memberikan gambaran maksud Kekerasan dalam Rumah Tangga sebagai sebuah gambaran kehancuran rumah tangga besar “Pemerintah” diberbagai daerah di Papua. Tulisan ini lahir dari refleksi dan keprihatinan penulis terhadap munculnya persoalan-persoalan   umum yakni hadirnya beragam tambang dan perusahan –perusahaan multi nasional dan internasional di seluruh tanah Papua. Kehadiranya menjadi keprihatinan besar terhadap ancaman ekslploitasi sumber daya alam terutama emas, tembaga, perak dan jenis material lainya seperti kayu diambil, tanah digarap, hutan dibabat, . Disisi lain kekawatiran seluruh eksistenis ekologis dan atntroposentris, flora dan fauna, Sungai dan kali di kawasan tambang hingga sepanjang Sungai-sungai tercemar limbah hingga maraknya menjual tanah sebagai “Mama Sumber Kehidupan”.

 

 

Salah satu factor yang mempengaruhi keluarga adalah factor pemmerataan keuangan, ekonomi dan perhatian terhadap seluruh isi kebutuhan keluarga. Jika hal ini tidak dilaksanakan maka bisa dicurigai terjadi krisis kehidupan ekonomi disegalah bidang hidup hingga tejadi perselingkuhan dari kedua pihak sumai maupun istri. Jika demikian, maka kehancuran keluarga sudah diambang pintu, apabilah tidak dikomunikasikan bersama.   Jika keluarga dipahami sebagai suatu organisasi kecil yang mampu mengelolah ekonomi rumah tangga dan mampu mengatur keuangan ekonomi rumah tangga dengan bijak bertanggung jawab maka tidak beda jauh dengan sebuah organisasi macro mampu bertanggung jawab dalam hal ini pemerintah.

 

Semua ini digambarkan sebagai masalah keluarga dalam rumah tangga. Untuk itu yang diketahui juga adalah anggota keluarga bukan diluar dari keluarga batih yang lain. Atau sebaliknya, jika kita hendak masuk untuk mengurusi permasalahan keluarga yang lain. Dalam hal ini permintahan dan juga perizinan atas dasar hubungan yang jelas menjadi dasar tanggung jawab kita. Maka itu perluh adanya sikap hormat terhadap keluarga, menghormati, menghargai dengan memintah nasihat, pandangan dan dukungan menjadi kekuatan untuk bertindak dalam “Dialog keluarga”. Tentu dalam keluarga terlihat kecil tetapi setiap anggota keluarga memiliki peran dan fungsi tersendiri. Seperti halnya ayah dan ibu sama-sama mengurusi anak ke sekolah, ibu bertugas mempersiapkan makanan, membereskan segalah tugas rumah dan menyiapkan makanan bagi suami dan anak-anak. Dan ayah sebagai kepala keluarga membanting tulang mencari nafkah dengan segalah usahaanya. Oleh karena itu semestinya perluh disadari bahwa disekitar kita ada begitu banyak keluarga lain yang selalu ada dan mendukung kita atau bahkan memusuhi kita. Maka itu sikap waspada dalam bertindak menjadi penting terutama dalam sikap saling menghormati, menghargai dan membangunkerjasama yang baik “Dialog Keluarga” demi menjaga keharmonisan keluarga dan keberlangsungan hidup semua tatanan sosial.                 

            Teori yang digunakan dalam tulisan  ini tentu berasal dari teori psikologi pembelajaran Sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Teori ini merupakan teori yang mendukung masalah sosial tentang kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga terjadi karena adanya proses belajar dalam suatu lingkungan dalam arti keluarga. Menurut Bandura, proses meniru perilaku dan sikap seorang model merupakan salah satu proses pembelajaran. Kondisi lingkungan di sekitar individu akan sangat mempengaruhi proses belajar seseorang. Misalnya, anak yang tinggal dalam keluarga yang sering melakukan kekerasan maka ia akan menjadi anak yang kasar dan sulit dalam mengendalikan emosi sehingga akan terus terbawa sampai dengan anak tersebut mempunyai keluarga sendiri (Gunarsa, 2008: 184).

Keluarga adalah sebuah proses pembelajaran awal dalam suatu masyarakat. Di dalam keluarga, semua anggotanya memulai proses pembelajaran, dan setiap perkembangan dari anggota-anggota keluarga itu tergantung dari apa yang dipelajari di dalam keluarga. Di dalam keluarga, ada terdapat kepala rumah tangga ( Ayah) yang berperan penting sebagai kepala atau pemimpin di dalam keluarga tersebut. Di dalam susunan anggota keluarga terdapat Ayah, Ibu dan anak-anak yang merupakan kesatuan utuh dalam suatu keluarga. Suatu keluarga akan disebut harmonis jika setiap anggota keluarga itu hidup dengan bahagia, saling membantu, adanya proses timbal balik yang seimbang (dialog). Sebaliknya, suatu keluarga akan disebut disharmonis apabila anggota keluarga tidak bahagia, terjadi konflik di dalam keluarga, terjadi kekecewaan, dan yang paling penting proses timbal balik tidak seimbang (Noorkasiani, Heryanti&Ismail, 2009: 88-89).

Dikatakan demikian karena sangat besar pengaruh lingkungan sosial dalam membentuk perilaku, karakter serta cara pandang seseorang. Tidak hanya itu, hal ini terlihat dalam seluruh dimensi hidup seperti halnya agama. Agama dianggap memiliki otoritas tersendiri tetapi terlihat sering terkesan ikut terperangkap dalam situasi sosial, sehingga tidak segan-segan menjadikan situasi sebagai alasan utama dalam pelayanan terutama dalam membelah kaum miskin ditengah porak-poraganda kebenaran. Kaum lemah yang dipolitisasi, dsingkirkan dan dijadikan objek semata memenuhi kebutuhan kaum elit. Situasi demikian, melahirkan pandangan yang keliru untuk memandang agama dan pemerintahaan secara keliru. Di lain sisi, pengaruh situasi politik pemerintah menghipnotis kebijakan dan otonomi lembaga adat secara parsial pun terpengaruh. Ketiga hal ini dilihat sebagai tiga tungku api yang bertugas menghidangkan makanan bagi kelangsungan hidup keluarga.

 

Jika masalah keluarga ini dikaitkan dalam pandangan ekologis, tentu mempunyai makna tersendiri dimana seorang ibu selalu digambarkan sebagai alam. Mengapa? Pemahamanya sederhana, kehidupan makhluk hidup di dunia ini berawal dari tanah. Tanah adalah tempat utama mencari nafka. Tanpa disuru, Tanah akan menyediakan berbagai jenis bahan maknanan beserta tumbuhan yang sifatnya menunjang semua kebutuhan makhluk hidup. Tugas menyediakan makanan ini selalu identic dengan seorang mama “Ibu”. Maka jelaslah bahwa filosofi mama selalu identic dengan tanah yang mengandung unsur kehidupan. Maka tindakan kekerasan terhadap ibu “mama-tanah” adalah hal terlarang dan sangat fatal jika nyawanya hilang dan seluruh dimensinya dihancur jualbelikan.

Bayangkan saja jika seseorang kehilangan istri dan saat yang sama mengurusi seluruh nafkah keluarga. Pasti akan menghadapi masalah yang serius dan suami akan selalu pergi cari makan di rumah orang lain atau katakana saja di rumah makan dengan uang. Hitunglah semua biaya yang setiap hari dikeluarkan untuk makan diluar rumah ketimbang istrinya masak dan menyediakanya dengan penuh kasih sayang dengan tarip “cinta kasih”. Manakah yang menguntungkan dan manakah yang merugikan?  Sungguh hironisnya orang-orang yang mengancam, mengeksploitasi dan menjualbelikan tanah sebagai alat perdagangan. Sadar akan nasib keluarga menjadi penting untuk mengatur dan memanagemet, keuangan, ekonomi dan sistim politik secara keluarga bukan lawan. Dengan demikian, penulis dalam tulisan ini tidak memberikan solusi namun lebih pada teguran agar direfleksikan secara pribadi melalui teori psikoanalisis sosial yang adalah realita hidup sosial kita saat ini dan akan terus kita hadapi.

 

Penulis adalah Mahasiswa dan Anggota Kebadabi Voice Group, Anggota Aplim Apom Research Group di STFT Fajar Timur, Abepura- Papua