Aksi Seribu Rupiah Untuk Mgr. Petrus Mandagi, MSC dan PT. Tunas Sawa Erma di hadapan Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM

AKSI SERIBU RUPIAH UNTUK MGR PETRUS C. MANDAGI, MSC DAN PT. TUNAS SAWA ERMA DI HADAPAN MGR. LEO LABA LADJAR, OFM
JAYAPURA-SUARA FAJAR TIMUR.COM. Hari ini,  pukul 11.25 – 11.60 waktu setempat, belasan umat katolik Papua menggalang dana untuk Mgr. Petrus C. Mandagi, MSC dan PT. Tunas Sawa Erma di depan auditorium Universitas Cenderawasih, Abepura, Kota Jayapura, Papua (Jumat,05/02/2021).
Sebelumnya, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, Uskup Keuskupan Jayapura dan Pastor Jhon Kayame, PR memimpin misa  di auditorium Universitas Cenderawasih dalam rangkah diskusi publik tentang Ajaran Sosial Gereja (ASG) dan misa bersama pembukaan .
Usai mengakhiri misa bersama keluarga mahasiswa Katolik dan Mgr. Beserta Rektor Uncen hendak pamit, kami mulai muncul tiba-tiba dari mana-mana dengan membawah sejumlah pamflet bertulisan: “seribu rupiah untuk Mgr. Petrus C. Mandagi, MSC dan PT. Tunas Sawa Erma, bantu mereka yang butuh uang”.
 
Kami berdiri di depan auditorium Universitas Cenderawasih tanpa harus menganggu kegiatan di dalamnya atau pun orang-orang di lingkungan sekitarnya. Kami hanya berdiri di depan pintu dan turunan tangga dengan memegang kotak sumbangan sukarela.
Beberapa jam kemudian, bapak Uskup Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, Pastor Jhon Kayame dan Rektor Universitas Cenderawasih, Apolo Safanpo keluar dari dalam auditorium. Safanpo dan Pastor Kayame seperti mengantar bapa uskup ke masa mobilnya.
Kami tidak bicara apa-apa. Kami hanya melihat muka, respon dan psikologi ketiga orang itu yang ikut diantar oleh beberapa Orang lainnya. Bapa uskup sudah membaca tulisan dan melihat keberadaan kami, kemudian menuju ke mobilnya. Tak merespon apa-apa.
Dia diam-diam turun dari tangga dan langsung menuju ke arah sopir pribadi yang masih menunggu di depan auditorium atas kedatangannya. Hanya Pastor Jhon Kayame saja yang datang jabat tangan dengan kami disitu (dalam keadaan pandemi Covid-19).
Sementara itu, rektor Universitas Cenderawasih, bapak Safanpo diam-diam mendekati kami, lalu bertanya kepada kami tujuan daripada aksi penggalangan dana tersebut.

Photo istimewa/Waine: Saat Uskup Jayapura dan Rektor Uncen dihadang dengan aksi Seribu Rupiah di depan Auditorium UNCEN, (Jumat, 05/02/2021)

Berikut adalah percakapan singkat antara rektor Universitas Cenderawasih (Uncen), Apolo Safanpo dengan salah satu masa aksi penggalangan dana.
Rektor Uncen: Kamu aksi untuk apa) dalam rangka ap?
Masa aksi: bapa silahkan baca di pamflet dibawah.
Rektor Uncen: Memangnya bapa uskup minta uang jadi kamu aksi?
Masa aksi: Mereka butuh jadi kami cari dana untuk uskup (agung Merauke)
Rektor Uncen: kamu ini ada-ada saja. Selesai. Begitulah
Dalam aksi ini tidak ada orang yang dapat menyumbangkan dananya dalam kotak aksi penggalangan dana secara spontanitas itu. Tapi kami hanya pegang pamflet sampai bapa Uskup Jayapura, Leo Laba Ladjar meninggalkan tempat. Setelah itu, kami pun bubar secara damai dan teratur.
Banyak orang akan pikir, dan bertanya: kenapa melakukan aksi penggalangan dana di hadapan Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM dan tidak melakukan terhadap Mgr Petrus C. Mandagi, MSC dan PT. Tunas Sawa Erma? Apa hubungannya dan sebagainya.
Alasannya sederhana: kami akan selalu melakukan aksi yang sama dimana-mana. Dalam konteks persoalan dan wilayah pelayanannya beda, tapi bukan tidak mungkin kalau para Uskup memiliki jaringan dan hubungan tertentu di tanah Papua.
Kita tahu bahwa di Papua ada Konferensi Episkopal Papua. Disini lima uskup di tanah Papua, yakni: Keuskupan Agung Marauke, Keuskupan Jayapura, Manokwari-Sorong, Agats dan Timika selalu melakukan koordinasi setiap tahun. Dengan harapan, dalam komunikasi tertentu dan melalui forum resmi, diharapkan supaya para uskup membicarakan, memikirkan dan mencari solusi terbaik untuk perubahan gereja yang lebih baik.
Dengan demikian, diharapkan lagi supaya para uskup di tanah Papua tidak lagi ikut menyakinkan nasib dan masa depan umat, terutama tanah adat milik masyarakat adat dan tanah milik gereja katolik ke tangan perusahaan, dan pengusaha atas nama kepentingan ekonomi, perusahaan, pendidikan, kesehatan dan lain sekalipun.
Aksi dalam momen Injil masuk ini, kami hendak sampaikan dan mengingatkan kepada pimpinan klerus kami yang tercinta, supaya tidak mudah membuka diri dengan siapapun yang ujung-ujungnya dapat menghilangkan hak-hak dasar hidup umat, sumber-sumber mata pencaharian hidup umat dan mengancam nasib dan masa depan umat Allah di tanah Papua.
Selama ini kami menjadikan pimpinan klerus kami sebagai tempat terakhir, tempat diamana kami bersandar, berlindung dan berharap. Tapi kalau mereka ambil jalan yang sangat melenceng dan itu bertentangan dengan hati nurani serta kehendak kami, maka kepada siapa lagi yang kami harus bersandar, berlindung dan berharap?
Kami berharap supaya pimpinan klerus harus benar-benar menjadi bagian dari pembawah damai dan menjadi juru selamat dalam pewartaan kabar karya keselamatan Allah di Papua. Bukan sebaliknya, banyak melakukan kompromi dengan pihak-pihak yang merusak lingkungan hidup dan mengancam nasib dan masa depan kami umat manusia.
Segela sesuatu yang kami sampaikan dan lakukan ini bukan semata-mata untuk merusak nama baik gereja katolik, dan pimpinan klerus kami yang terkasih. Tapi kami melakukan sesuatu supaya semakin hari orang semakin membuka mata, hati, pikiran dan jelih melihat ragam persoalan yang menghantui dalam hidup menggereja dan bermasyarakat.
Kami membantu orang untuk melihat masalah yang lebih mendasar dan lebih mendalam lagi. Dengan harapan, supaya masalah-masalah yang ada di dalam harus diselesaikan dan gereja semakin bebas dari noda-noda hitam terselubung.
“Pakaian yang kotor harus cuci. Yang robek dan rusak harus dibuang atau beli baru. Tidak harus membuat ruangan tertentu kotor sampai  menjadi sebagai sarang nyamuk, yang nantinya akan gigit dan menghisap darah dari orang-orang bagi penghuni rumah”.
Jayapura, 05 Februari 2021

Sumber: Maelvin Waine Call: +62 812-1364-1360 (selaku koordinator Suara Kaum Awam Katolik Regio Papua)
Publisher: Erick Bitdana

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.